Pemerintah Desa Juanga
Melihat kekayaan pariwisata alam, produk kerajinan UMKM, serta komoditas perikanan dan pertanian Desa Juanga.
wisata
Museum Perang Dunia II Morotai merupakan salah satu destinasi wisata sejarah yang berada di Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Museum ini dibangun sebagai sarana pelestarian sejarah sekaligus media edukasi untuk memperkenalkan peran strategis Pulau Morotai dalam Perang Dunia II. Pada tahun 1944, Morotai menjadi salah satu pangkalan militer utama Sekutu di kawasan Pasifik setelah pendaratan pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur. Dari pulau ini, berbagai operasi militer dilancarkan untuk mendukung pembebasan wilayah Asia Tenggara dan Pasifik dari pendudukan Jepang. Museum ini menyimpan berbagai koleksi peninggalan perang, seperti perlengkapan militer, senjata, amunisi, peralatan komunikasi, seragam tentara, dokumen sejarah, foto-foto arsip, serta berbagai artefak yang ditemukan di daratan maupun perairan Pulau Morotai. Beberapa koleksi juga menampilkan replika pesawat, kendaraan militer, dan informasi mengenai operasi militer yang pernah berlangsung di Morotai. Keberadaan koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi perang sekaligus memperlihatkan nilai historis Pulau Morotai dalam sejarah Perang Dunia II. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, Museum Perang Dunia II Morotai juga menjadi pusat edukasi bagi masyarakat, pelajar, peneliti, maupun wisatawan. Melalui penyajian informasi sejarah yang sistematis, museum ini membantu pengunjung memahami peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Morotai serta dampaknya terhadap perkembangan sejarah Indonesia dan kawasan Pasifik. Oleh karena itu, museum ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya dan sejarah bangsa. Sebagai salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Pulau Morotai, Museum Perang Dunia II memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah (heritage tourism). Lokasinya yang mudah dijangkau dari pusat Kota Daruba serta kedekatannya dengan berbagai situs peninggalan perang lainnya, seperti Army Dock, landasan udara peninggalan Sekutu, dan beberapa titik bangkai pesawat maupun kendaraan militer, menjadikan museum ini sebagai bagian penting dari jaringan wisata sejarah di Pulau Morotai. Pengembangan museum yang terintegrasi dengan destinasi sejarah lainnya diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas Morotai sebagai "Pulau Sejarah Perang Pasifik".
wisata
Daloha Beach & Dive Resort merupakan sebuah kawasan akomodasi dan wisata bahari yang berlokasi di Tanjung Dehegila, Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Resort ini dibangun dan dikembangkan oleh PT Jababeka Morotai sebagai bagian dari pengembangan sektor pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai. Lokasinya yang berada tepat di tepi Pantai Daloha menjadikan resort ini memiliki panorama laut yang indah dengan hamparan pasir putih serta pemandangan matahari terbit dan terbenam yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Daloha Beach & Dive Resort mengusung konsep arsitektur tropis yang berpadu dengan nuansa tradisional. Bangunan-bangunannya didominasi material kayu dengan desain semi-panggung yang terinspirasi dari rumah tradisional di Indonesia Timur, sehingga menciptakan suasana yang menyatu dengan lingkungan pesisir. Resort ini memiliki sekitar 25 unit cottage dan vila yang dilengkapi fasilitas seperti kamar berpendingin udara (AC), televisi, kamar mandi dengan air panas, balkon pribadi, serta pemandangan langsung ke laut. Selain menyediakan akomodasi, Daloha Beach & Dive Resort juga menawarkan berbagai fasilitas penunjang wisata, seperti restoran berkapasitas sekitar 300 orang yang menyajikan hidangan lokal maupun internasional, area pantai pribadi, layanan antar-jemput bandara, serta paket wisata yang mencakup snorkeling, diving, island hopping, dan kunjungan ke situs-situs sejarah Perang Dunia II di Pulau Morotai. Lokasinya yang hanya sekitar 10 menit dari Bandara Leo Wattimena menjadikan resort ini mudah diakses oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Sebagai salah satu resort unggulan di Pulau Morotai, Daloha Beach & Dive Resort berperan penting dalam mendukung pengembangan pariwisata daerah. Keberadaannya tidak hanya meningkatkan kualitas amenitas bagi wisatawan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal melalui penyediaan lapangan kerja, promosi destinasi wisata Morotai, serta pengembangan wisata bahari yang berbasis pada potensi alam dan sejarah. Dengan memadukan kenyamanan akomodasi, keindahan pantai, dan akses menuju berbagai objek wisata, Daloha Beach & Dive Resort menjadi salah satu ikon pariwisata modern di Kabupaten Pulau Morotai.
wisata
Pantai Sagolo merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang berada di Pulau Morotai, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Pantai ini dikenal memiliki bentang alam yang masih alami dengan hamparan pasir putih, air laut yang jernih, serta deretan pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang garis pantainya. Berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik, Pantai Sagolo menyuguhkan panorama laut yang luas dengan suasana tenang dan udara pesisir yang sejuk, sehingga menjadi tempat yang ideal untuk menikmati keindahan alam maupun aktivitas rekreasi. Keunikan Pantai Sagolo terletak pada bentang pantainya yang terbentuk dari terumbu karang yang terangkat (uplifted coral reef). Kondisi ini menghasilkan hamparan karang datar yang memanjang ke arah laut, menyerupai teras alami yang langsung menghadap perairan dalam Samudra Pasifik. Lanskap tersebut tidak hanya memberikan nilai estetika yang tinggi, tetapi juga menjadi daya tarik geologi yang jarang ditemukan di pantai-pantai lain di Indonesia. Selain memiliki panorama yang indah, Pantai Sagolo juga menyimpan potensi besar untuk pengembangan wisata berbasis alam (ecotourism). Lingkungan pantai yang masih relatif terjaga, vegetasi kelapa yang mendominasi kawasan pesisir, serta akses yang cukup mudah dari Bandara Leo Wattimena menjadikan pantai ini berpotensi menjadi salah satu destinasi unggulan di Pulau Morotai. Meskipun demikian, pengembangan kawasan wisata tetap perlu memperhatikan aspek konservasi lingkungan agar keaslian ekosistem pesisir tetap terpelihara bagi generasi mendatang.