Sejarah Desa Juanga

Mengenal asal-usul, sejarah berdiri, dan tonggak perkembangan Desa Juanga.

Asal Usul & Sejarah Perkembangan

Pemandangan Desa Juanga

2.1. Kondisi Desa
2.1.1. Letak Geografis
Desa Juanga secara geografis berada pada wilayah kecamatan morotai selatan dengan posisi bumi 2°0'28 . 84 "U dan 128°16'45.62"T dengan luas desa ± 440.00 Ha. Secara administratif desa juanga memiliki 5 RT dan 2 RW dengan batas desa sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pandanga
- Sebelah Selatan Berbatasan Dengan Laut
- Sebelah Barat Berbatasan Dengan Laut
- Sebelah Timur berbatasan Dengan Laut

2.1.2. Topografi dan Kemiringan Lereng
Kondisi Topografi akan sangat menentukan arah pengembangan suatu desa. Hal ini diakibatkan karena laju pembangunan yang tergantung pada kondisi topografi. Begitu pula dengan desa juanga merupakan daerah dataran rendah yang keberadaannya di daerah pesisir pantai. Ini memungkinkan pengembangan wilayah lebih terkonsentrasi disekitar pesisir pantai. Berdasarkan data diperoleh dari Citra ASTERGDM Versi 2 maka kondisi topografi memiliki fisik wilyah yang relatif rendah. Sementara tingkat ketinggian berkisar hingga > 10 dari permukaan.
Selain itu kemiringan lereng merupakan unsur yang penting untuk di telaah. Kesesuaian lahan bai peruntukan kegiatan tertentu tidak terlepas dari pertimbangan kemiringan lereng dikawasan tersebut. Olehnya itu kemiringan lereng sangat penting adanya dalam menentukan arah pembangunan desa. Pada umumnya tingkat kemiringan lereng yang ada di desa juanga mulai dari kategori 0-3 datar 3-6 landai, 6-9 agak curam, dan sampai pada > 13 kategori tingkat kecuraman.

2.1.3. Kondisi Klimatologi
Pada prinsipnya keadan klimatologi dalam suatu wilayah akam sangat berpengaruh pada suhu, kondisi, curah hujan, serta kecepatan angin. Desa Juanga secara umum memiliki komdisi iklim tropis yang hamper sama dengan Kabupaten Pulau Morotai. Pengaruh jarak dan intensitas kecepatan angin menyebabkan kesamaan iklim. Kondisi iklim yang ada di Desa Juanga mencapai suhu rata – rata berkisar 250C-270C sama halnya dengan daerah lain yang juga memiliki musim kamarau dan musim hujan. Musim hujan terjadi antar bulan November dan bulan maret. Sementara kemarau terjadi antara bulan mei dan bulan oktober sementara dibulan lain mengalami musim pancaroba.

2.1.4. Geologi dan Jenis Tanah
Gambaran umum mengenai kondisi geologi, jenis batuan Desa Juanga mempunyai komposisi yang sangat bervariasi dalam konteks geologi, wilayah Desa Juanga sebagian besar terdiri dari jenis batuan Gambing koral, Melasi Sasarin, Alluvial dan alluvium. Terhadap pembangunan terhadap kondisi geologi yang ada di Desa juanga mampu menunjang aktivitas dalam rangka meningkatkan arahan pembangunan desa. Mengingat kondisi itu maka pembangunan tidak akan menjadi penghambat dalam pengembangan wilayah di desa juanga.
Disamping itu kondisi jenis tanah sangat berkaitan dengan tingkat perkembangan tanah, kesuburan tanah, tingkat kepekaan, terhadap erosi dan jenis vegetasi yang dapat tumbuh serta metode pengolahan tanah yang dapat digunakan begi keperluan pertanian dan non pertanian.

Karena struktur tanahnya alluvial dan alluvium lebih mendominasi jenis batuan gambing koral dan melasi sasarin di Desa Juanga maka tanaman pertanian selain pisang dan tanaman kelapa sulit untuk bisa bertahan dalam waktu yang lama.

2.1.5. Kondisi Hidrologi
kebutuhan akan air bersih memaksa manusia untuk terus menggali potensi untuk dimanfaatkan. Untuk kebutuhan bagi aktivitas masyarakat Desa Juanga. Secara umum kondisi hidrologi yang di manfaatkan (kondisi air sumur bor dan air tanah) di Desa Juanga sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca hujan. Dari spek Hidrologi Desa Juanga memiliki air yang berasal dari Air Hujan dan PDAM. Sebagian besar masyarakat Desa Juanga memanfaatkan permukaan sebagai air bersih yang dikelola oleh PDAM untuk dikonsumsi dan sumur bor umumnya juga dimanaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Juanga.

2.1.6. Penggunaan lahan
seiring dengan pengembangan wilayah, tuntutan lahan semakin diprioritaskan untuk dikelola dengan maksimal. Penggunaan lahan akan menentukan karakteristik wilayah sehingga mmpu menopang segala kegiatan atau aktivitas dalam pembangunan desa. Penggunaan lahan baik akan memberikan arahan yang baik dan begitu pula penggunaan lahan yang buruk akan memberikan dampak pula.
Dengan melihat penggunaan lahan yang ada di desa juanga sangat bervariasi polanya. Desa Juanga dengan penggunaan lahannya diperuntukan untuk perkembunan rakyat, pekarangan, padang rumput, tidak dimanfaatkan, hutan lindung, ladang, tanaman kayu dan lain – lain. Penggunaan lain – lain adalah penggunaan lahan yang tidak terdata oleh instansi terkait antara lahan tidur maupun tanah bebatuan.
Untuk itu penggunaan lahan yang ada di Desa Juanga harus disesuaikan dengan peruntukan masing – masing selain itu Desa Juanga tidak terdapat penggunaan lahan untuk kegiatan persawahan.

2.2. Aksebilitas
Desa Juanga terletak di wilayah seputaran kota Pulau Morotai kecamatan Morotai selatan dan kedudukan desa berada dekat pesisir pantai sehingga mudah di jangkau karena di lewati jalan utama, perhubungan lewat laut, darat maupun udara semua terjangkau, jaringan telkomsel dapat di jangkau, jaringan listrik lancar, tentang air bersih masih ada kekurangan karena semua RW belum dapat menikmati air PDAM.

2.2.1. Jaringan Jalan
Dalam menunjang berbagai aktivitas wilayah jaringan jalan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap penegmbangan wilayah. Dengan kata lain jaringan jalan merupakan prasarana pendukung yang dimana tingkat aksebilitas sangat yang tinggi secara tidak langsung memberikan penekanan terhadap pertumbuhan suatu wilayah karena ketersediaan sistem jaringan jalan yang baik akan sangat baik dan sangat mendukung dalam menghubungkan antar kota dan desa, antara daerah yang sudah maju dan daerah yang terisolor atau terbelakang. Jaringan jalan yang ada di desa juanga sudah mampu menghubungkan antar dari suatu desa ke desa lain.

2.2.2.Jaringan Listrik
Listrik merupakan kebutuhan primer yang harus terlayani oleh setiap masyarakat. Dengan adanya listrik/PT PLN di Desa Juanga akan memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Ketersediaan listrik di Desa Juanga hampir terpenuhi di seluruh rumah masyarakat. Penggunaan listrik disetiap rumah tangga menggunakan 900watt/RT. Kemudian daripada itu kebutuhan akan listrik sudah terlayani.

2.3. Sejarah Desa
Dahulu kala Desa Juanga bernama NAVELBES, pada masa perang dunia II desa ini dijadikan sebagai pangkalan tentara angkatan laut amerika. Setelah bunyi gong kemerdekaan dibeduk diatas teriakan dunia, maka desa yang bernama Navelbes diberi nama DESA JUANGA. Desa Juanga diambil dari sebutan bagi pejuang kerajaan ternate. Pada masa itu desa juanga berada dibawah kendali wilayah kerajaan kesultanan ternate.
Desa navelbes atau yang saat ini dikenal dengan sebutan desa juanga berada pada bagian timur Kabupaten Pulau Morotai. Sebelum tahun 1959 desa Navelbes sangatlah luas mencakup laut dibagian selatan dan timur sampai ke laut dan disebelah utara desa BOSUESEN dan desa pandanga. Desa Juanga berdiri sejak tahun 1957 yang di pimpin oleh seorang kepala kampung dan kemudian menjadi tokoh sekaligus berpengaruh saat itu beliau adalah Rahaji Robo. Pada tahun 1960, desa juanga dimekarkan menjadi dua desa diantaranya desa juanga itu sendiri dan desa pandanga.